
Rusia menggelar uji coba rudal jarak jauh terbaru pada Selasa (12/5), yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Uji coba ini dilakukan beberapa bulan setelah Perjanjian New START, yang membatasi persenjataan nuklir antara Rusia dan Amerika Serikat (AS), resmi berakhir pada Februari lalu.
Menurut laporan AFP yang dikutip pada Rabu (13/5/2026), berakhirnya New START secara resmi membebaskan kedua negara dengan kekuatan nuklir terbesar di dunia dari kewajiban membatasi jumlah hulu ledak nuklir yang ditempatkan pada rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik diluncurkan dari kapal selam (SLBM), serta bom dan rudal jelajah berbasis udara. Perjanjian yang ditandatangani pada 2010 itu awalnya berlaku hingga 2021, tetapi diperpanjang lima tahun hingga Februari 2026.
Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi uji coba tersebut dilakukan dari pangkalan di Laut Barents, dengan rudal tipe RS-24 Yars diluncurkan menuju target di Semenanjung Kamchatka, ribuan kilometer di timur Rusia. “Uji coba ini sukses dan membuktikan kesiapan tempur senjata strategis kami,” ujar juru bicara kementerian tersebut melalui Telegram, tanpa menyebutkan secara eksplisit kemampuan nuklir rudal itu.
Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan pakar internasional. “Ini adalah sinyal kuat bahwa Rusia tidak lagi terikat batasan verifikasi dan pengujian bersama dengan AS,” kata analis keamanan dari Carnegie Endowment for International Peace, James Acton. AS sendiri merespons dengan pernyataan dari Pentagon, yang menyebut uji coba itu “tidak mengejutkan” dan menegaskan komitmen Washington untuk menjaga keseimbangan strategis.
Berakhirnya New START menandai akhir era pengendalian senjata nuklir bilateral terakhir antara Moskow dan Washington. Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, hubungan kedua negara memburuk, dengan Rusia menangguhkan partisipasi dalam perjanjian itu pada 2023 sebelum akhirnya mundur total. Saat ini, kedua negara diperkirakan memiliki sekitar 1.500 hulu ledak nuklir masing-masing yang ditempatkan, menurut data Federation of American Scientists.
Para diplomat PBB menyatakan harapan agar negosiasi baru dapat dimulai, meski prospeknya suram di tengah ketegangan geopolitik global. Uji coba Rusia ini juga menambah kekhawatiran soal perlombaan senjata nuklir di Asia, di mana China terus memodernisasi arsenalnya.




