
Tel Aviv, 9 April 2026 – Militer Israel menggelar operasi militer skala besar di Lebanon pada Rabu (8/4), hanya sehari setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan yang dimediasi Pakistan. Serangan udara dan darat ini menargetkan posisi Hizbullah di wilayah selatan Lebanon, menewaskan puluhan militan dan menghancurkan infrastruktur militer, menurut pernyataan resmi Angkatan Bersenjata Israel (IDF).
Operasi yang dinamai “Badai Badai” ini dipicu oleh tembakan roket dari Lebanon ke perbatasan Israel pada Selasa malam, yang diklaim sebagai pelanggaran langsung terhadap kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut serangan itu sebagai “respons tegas untuk menjaga keamanan warga Israel.” IDF melaporkan menghancurkan lebih dari 50 target, termasuk gudang senjata dan jalur suplai Hizbullah, dengan korban jiwa di pihak Lebanon mencapai 28 orang, mayoritas militan, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Lebanon.
Kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran, yang diumumkan pada Selasa (7/4) di Islamabad, bertujuan meredakan ketegangan Timur Tengah setelah serangkaian insiden di perbatasan Israel-Lebanon dan Teluk Persia. Pakistan bertindak sebagai mediator netral, dengan Menteri Luar Negeri Bilawal Bhutto Zardari memuji kesepakatan itu sebagai “langkah krusial menuju perdamaian.” Namun, juru bicara Hizbullah, Hassan Nasrallah, mengecam serangan Israel sebagai “pengkhianatan” dan berjanji balasan.
PBB dan Uni Eropa mendesak kedua belah pihak untuk kembali ke meja negosiasi, sementara harga minyak dunia melonjak 3% akibat kekhawatiran eskalasi konflik. Presiden AS Donald Trump menyatakan dukungan penuh terhadap Israel, menyebut serangan itu “pertahanan diri yang sah,” sementara Iran menuduh AS gagal menekan sekutunya.
Situasi di perbatasan tetap tegang, dengan warga Lebanon di selatan mulai mengungsi. Analis militer memperingatkan bahwa operasi ini berpotensi memicu perang regional jika tidak ada de-eskalasi cepat.





