
Wakil Menteri Luar Negeri pemerintah Houthi, Hussein al-Ezzi, mengeluarkan peringatan keras bahwa kelompoknya siap menutup Selat Bab al-Mandeb di lepas pantai Yaman jika Presiden AS Donald Trump terus menghalangi upaya perdamaian di negara tersebut.
Dalam pernyataan yang diposting di platform X dan dilansir Al Jazeera pada Minggu (19/4/2026), al-Ezzi menyatakan, “Jika Sanaa memutuskan untuk menutup Bab al-Mandeb, maka seluruh umat manusia dan jin akan benar-benar tidak berdaya untuk membukanya.” Pernyataan ini menekankan kemampuan Houthi untuk mengontrol rute pelayaran vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Samudra Hindia, yang menjadi jalur penting bagi 12 persen perdagangan dunia.
Al-Ezzi menambahkan, “Oleh karena itu, yang terbaik bagi Trump—dan dunia yang terlibat—adalah segera mengakhiri semua praktik dan kebijakan yang menghalangi perdamaian, dan menunjukkan rasa hormat yang diperlukan untuk hak-hak rakyat dan bangsa kita.”
Peringatan ini muncul di tengah ketegangan yang meningkat di wilayah Timur Tengah, di mana Houthi telah berulang kali menyerang kapal-kapal komersial dan militer di Selat Bab al-Mandeb sebagai bagian dari dukungan mereka terhadap Palestina dalam konflik Gaza. Penutupan selat tersebut berpotensi mengganggu rantai pasok global, termasuk minyak dan barang konsumsi, serta memicu krisis energi dunia.
Pemerintah AS belum merespons secara resmi pernyataan ini, tetapi pejabat Gedung Putih sebelumnya menegaskan komitmen untuk menjaga kebebasan navigasi di perairan internasional. Sementara itu, sekutu Houthi seperti Iran disebut-sebut memiliki pengaruh strategis di wilayah tersebut, meskipun Teheran membantah keterlibatan langsung.
Situasi Yaman tetap rapuh sejak perang saudara meletus pada 2014, dengan Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan wilayah barat, termasuk akses ke selat tersebut. Komunitas internasional terus mendorong negosiasi damai, tetapi tuduhan saling menghalangi sering kali menghambat kemajuan.




