
Islamabad, 12 April 2026 – Perundingan damai antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang digelar di Islamabad, Pakistan, pada akhir pekan ini berakhir tanpa hasil positif. Delegasi Iran menyalahkan tuntutan Washington yang dianggap tidak realistis sebagai penyebab kegagalan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, menyatakan dalam konferensi pers singkat di sela-sidang bahwa posisi AS tetap kaku, menuntut Tehran untuk menghentikan seluruh program pengayaan uranium secara permanen tanpa jaminan timbal balik yang memadai. “Tuntutan mereka tidak masuk akal dan mengabaikan hak kedaulatan Iran atas energi nuklir sipil,” tegas Abdollahian, seperti dikutip dari agensi berita resmi IRNA.
Pertemuan ini, yang difasilitasi oleh Pakistan atas permintaan PBB, merupakan upaya terbaru untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir JCPOA yang runtuh pada 2018 di bawah pemerintahan Donald Trump. Delegasi AS, dipimpin oleh Utusan Khusus Timur Tengah Thomas Barrack, bersikeras bahwa sanksi ekonomi akan terus diberlakukan hingga Iran memenuhi “standar verifikasi internasional penuh”.
Pakistan, sebagai tuan rumah, menyatakan kekecewaan atas hasil rundingan. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyebut Islamabad tetap berkomitmen memediasi dialog regional untuk mencegah eskalasi ketegangan di Teluk Persia. “Kami harap kedua pihak bisa kembali ke meja perundingan dengan sikap lebih fleksibel,” ujar Dar.
Kegagalan ini memicu reaksi beragam di dunia internasional. Rusia dan China mendukung posisi Iran, sementara Israel dan sekutu Arab AS memperingatkan risiko proliferasi nuklir. Harga minyak dunia sempat melonjak 2% pada perdagangan pagi ini, mencerminkan kekhawatiran pasar atas potensi konflik baru.
Para analis memprediksi rundingan lanjutan mungkin digelar di lokasi netral lain, meski ketegangan geopolitik saat ini membuat prospek damai semakin suram.





