
Beijing – Pemerintah China mengecam keras blokade yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Persia, menyebutnya sebagai tindakan “berbahaya dan tidak bertanggung jawab” yang berpotensi memicu eskalasi konflik regional.
Pernyataan keras itu disampaikan Kementerian Luar Negeri China pada Selasa (14/4/2026), hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade tersebut. Trump mengancam akan “menenggelamkan kapal apa pun” yang berusaha meninggalkan atau berlabuh di pelabuhan Iran, sebagai respons atas kegagalan pembicaraan damai akhir pekan lalu.
Blokade mulai berlaku pukul 14.00 GMT Senin (13/4), meskipun AS dan Iran baru saja menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. Langkah ini memicu kekhawatiran internasional, karena dapat mengganggu jalur perdagangan minyak utama dunia dan menimbulkan risiko bentrokan militer di Teluk Persia.
“Sejak kapan sebuah negara superkekuatan bisa memblokade pelabuhan negara lain seenaknya? Ini melanggar hukum internasional dan stabilitas global,” tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Wang Wenbin, dalam konferensi pers rutin. China, sebagai importir minyak terbesar dunia dari Iran, khawatir blokade akan memengaruhi pasokan energi dan harga global.
Sementara itu, Iran menyebut blokade sebagai “pernyataan perang” dan memperingatkan warganya untuk bersiap menghadapi konfrontasi. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan menggelar sidang darurat Rabu ini atas desakan Rusia dan beberapa negara anggota Uni Eropa.
Blokade Trump ini melanjutkan ketegangan AS-Iran yang meruncing sejak 2025, dipicu oleh program nuklir Teheran dan serangan proxy di Timur Tengah. Para analis memperingatkan bahwa tindakan ini bisa menyeret kekuatan regional seperti Arab Saudi dan Israel ke dalam pusaran konflik lebih luas.
Hingga kini, belum ada laporan insiden langsung, tetapi Armada Kelima AS di Teluk sudah dikerahkan untuk menegakkan blokade.





