
Faksi utama Palestina, Fatah, menggelar kongres pertamanya dalam beberapa tahun yang berujung pada perubahan dan penguatan kepemimpinan internal, termasuk terpilihnya Yasser Abbas, putra Presiden Mahmoud Abbas, ke dalam Komite Pusat — badan pengambilan keputusan tertinggi gerakan itu.
Dilansir AFP, Minggu (17/5/2026), Yasser Abbas (64), seorang pengusaha yang sebagian besar waktu tinggal di Kanada, berhasil mengamankan satu kursi di Komite Pusat setelah sebelumnya diangkat sekitar lima tahun lalu sebagai “wakil khusus” Presiden Mahmoud Abbas. Kemenangan ini menandai peningkatan peran Yasser di lingkaran kepemimpinan Fatah, meskipun statusnya sebagai figur yang lebih dikenal di kalangan bisnis internasional memicu diskusi di dalam gerakan tentang keseimbangan antara pengalaman politik dan koneksi keluarga.
Sementara itu, Marwan Barghouti — pemimpin Fatah yang kini dipenjara dan populer di kalangan basis — memimpin perolehan suara sementara dengan mempertahankan kursinya di Komite Pusat dan meraih jumlah suara tertinggi menurut data sementara yang dilihat AFP. Popularitas Barghouti tetap kuat meskipun dia menjalani hukuman penjara, yang mencerminkan dukungan luas terhadap figur-figur yang memiliki rekam jejak perlawanan di lapangan.
Jibril Rajoub kembali dipercaya sebagai sekretaris jenderal Komite Pusat, mempertahankan posisi yang telah dipegangnya sejak 2017. Kembalinya Rajoub menunjukkan adanya keinginan untuk menjaga kesinambungan dalam struktur organisasi dan manajemen internal Fatah, di tengah dinamika politik Palestina yang terus berubah.
Kongres yang digelar kali ini dipandang sebagai momen penting bagi Fatah untuk meremajakan kepemimpinan, menyelesaikan ketegangan internal, dan merumuskan strategi menghadapi tantangan politik, baik di tingkat internal Palestina maupun dalam hubungan dengan aktor regional dan internasional. Pemilihan tokoh-tokoh dengan latar belakang berbeda — dari pengusaha yang dekat keluarga kepresidenan hingga tokoh berpengaruh yang dipenjara — mencerminkan kompleksitas agenda politik yang harus dihadapi gerakan tersebut.
Belum ada reaksi resmi panjang dari Presiden Mahmoud Abbas atau pernyataan rinci dari Yasser Abbas mengenai prioritasnya di Komite Pusat. Pengamat mengatakan kemenangan ini dapat memperkuat posisi keluarga Abbas dalam struktur Fatah, tetapi juga dapat menimbulkan perdebatan di kalangan aktivis yang menuntut kepemimpinan lebih berpengalaman lapangan dan lebih mewakili aspirasi generasi muda Palestina.
Kongres Fatah dipantau ketat oleh berbagai pihak termasuk kelompok-kelompok perlawanan Palestina lainnya, pemerintah Israel, dan komunitas internasional, karena keputusan internal Fatah berpengaruh pada arah pembicaraan politik dan kemungkinan terobosan dalam upaya perdamaian dan rekonsiliasi internal.





