
Beberapa pejabat Amerika Serikat dilaporkan mendorong Uni Emirat Arab (UEA) untuk mengambil peran lebih agresif dalam konflik dengan Iran, termasuk usulan yang menyebutkan agar Abu Dhabi merebut salah satu pulau milik Teheran di Teluk. Laporan tersebut dipublikasikan oleh media Inggris, The Telegraph, dan dikutip oleh Middle East Monitor pada Senin (18/5/2026), mengacu pada pernyataan seorang mantan pejabat keamanan senior AS yang tidak disebutkan namanya.
Menurut laporan, sumber itu menyatakan bahwa sejumlah tokoh dalam lingkaran dalam mantan Presiden Donald Trump mengajukan gagasan agar UEA melakukan operasi untuk merebut Pulau Lavan, sebuah pulau yang berada di perairan Teluk dan dimiliki Iran. Pulau Lavan memiliki nilai strategis karena lokasinya dekat jalur laut penting dan fasilitas energi di sekitarnya.
Pernyataan yang dikutip The Telegraph memicu perhatian karena menandakan upaya untuk melibatkan negara regional dalam potensi eskalasi militer yang lebih luas. Sementara itu, baik pemerintah UEA maupun pejabat AS hingga saat pelaporan belum memberikan konfirmasi resmi terhadap klaim tersebut. Juru bicara Kedutaan Besar UEA di Washington dan perwakilan Kementerian Luar Negeri AS tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Reaksi dan kekhawatiran internasional
Pengamat regional dan analis keamanan memperingatkan bahwa dorongan bagi negara ketiga untuk mengambil tindakan militer terhadap aset Iran berisiko memicu eskalasi cepat di Teluk, kawasan yang sudah sarat ketegangan. “Mengajak sekutu regional untuk melakukan intervensi semacam itu dapat memperluas konflik dan mengganggu lalu lintas maritim serta pasokan energi global,” kata seorang pakar hubungan internasional yang enggan disebutkan namanya.
Iran, yang selama ini menolak klaim semacam itu, kemungkinan akan melihat upaya semacamnya sebagai provokasi serius terhadap kedaulatannya. Seorang analis militer di Timur Tengah mengatakan bahwa operasi pengambilalihan pulau di perairan yang disengketakan akan membutuhkan kesiapan logistik dan dukungan intelijen tingkat tinggi serta berisiko memicu respons militer dari Teheran.
Konteks politik dan diplomatik
Isu ini muncul di tengah ketegangan yang berlangsung antara AS dan Iran sejak beberapa tahun terakhir, yang melibatkan serangkaian insiden maritim, serangan siber, dan sanksi ekonomi. Saran kepada UEA untuk terlibat lebih aktif juga mencerminkan dinamika strategis di kawasan, di mana negara-negara Teluk mempertimbangkan hubungan keamanan mereka dengan Washington sekaligus menjaga keseimbangan dengan Iran.
Sumber The Telegraph mengatakan gagasan tersebut datang dari “beberapa orang di lingkaran dalam” Donald Trump, namun dokumen atau bukti tertulis yang memperkuat klaim itu tidak dipublikasikan bersama laporan tersebut. Anonimitas sumber menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana proposal itu mewakili kebijakan resmi AS atau hanya usulan dari individu tertentu.
Dampak potensial dan langkah selanjutnya
Jika klaim tersebut benar dan mendapat dukungan, langkah semacam itu dapat menarik kecaman diplomatik luas dan memperburuk ketegangan regional. UEA kemungkinan akan menghadapi tekanan dari komunitas internasional untuk menahan diri, sementara Iran dapat merespons baik melalui tindakan militer terbuka maupun operasi asimetris di laut dan darat.
Pengamat berharap negara-negara besar dan organisasi internasional memperkuat jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi yang dapat berdampak pada keamanan energi dan ekonomi global. Sementara itu, pemantauan perkembangan lebih lanjut diperlukan untuk memastikan apakah klaim tersebut akan memicu respons kebijakan nyata dari Washington atau Abu Dhabi.




