
Pejabat senior Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan Amerika Serikat agar tidak meningkatkan eskalasi lebih lanjut di Selat Hormuz, menyusul rangkaian serangan berisiko di jalur pelayaran strategis yang kembali memicu ketegangan di Timur Tengah.
Peringatan itu disampaikan di tengah klaim militer AS bahwa sejumlah helikopter Apache dan Seahawk mereka telah menghantam enam kapal Iran yang diduga mengancam pelayaran komersial di kawasan tersebut. Presiden Donald Trump juga menyatakan secara terpisah bahwa pasukan AS telah “menghancurkan” tujuh kapal militer kecil Iran di perairan itu.
Militer Washington mengatakan pihaknya juga berhasil menggagalkan serangan rudal dan drone pada Senin (4/5). Sementara itu, Uni Emirat Arab, salah satu negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS, melaporkan rentetan serangan terbaru Iran di wilayahnya.
Peringatan terbaru dari Iran itu muncul setelah Presiden Trump mengumumkan misi militer baru AS untuk mengawal kapal-kapal dari negara-negara netral keluar dari perairan Teluk melalui Selat Hormuz. Langkah tersebut menandai meningkatnya keterlibatan militer AS di jalur laut yang vital bagi perdagangan energi global itu.
Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif di kawasan, karena menjadi jalur utama distribusi minyak dunia. Ketegangan yang meningkat di wilayah tersebut berpotensi memicu dampak lebih luas terhadap stabilitas regional maupun pasar energi internasional.




