
Thailand berhasil meraih kesepakatan bilateral dengan Iran yang memungkinkan kapal-kapal tanker minyaknya melintasi Selat Hormuz secara aman, meski konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel terus membara. Kesepakatan ini diumumkan pada Sabtu (28/3/2026), menandai terobosan diplomatik di tengah ketegangan global yang memicu krisis energi.
Selat Hormuz, jalur laut sempit di Teluk Persia yang menghubungkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, telah menjadi medan konflik sejak akhir Februari lalu. Perang yang dipicu oleh serangan Israel ke fasilitas nuklir Iran, didukung AS, menyebabkan blokade efektif sejak awal Maret. Akibatnya, lalu lintas kapal tanker turun drastis hingga 80%, menurut data lembaga pelayaran internasional.
Dampaknya langsung terasa di pasar global: harga minyak Brent melonjak 25% dalam sebulan terakhir, mencapai rekor tertinggi US$120 per barel. Biaya pengiriman kontainer naik dua kali lipat, memukul ekonomi Asia Tenggara yang bergantung impor energi. Thailand, sebagai importir minyak bersih terbesar di ASEAN, menghadapi ancaman inflasi dan kelangkaan BBM jika pasokan tak kunjung pulih.
Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Thailand, kesepakatan ini dicapai melalui negosiasi rahasia di Oman, melibatkan jaminan keamanan untuk 15 kapal tanker Thailand per bulan. Iran setuju memberikan koridor aman berkoordinasi dengan Garda Revolusi, sebagai imbalan atas netralitas Bangkok dalam konflik. “Ini langkah pragmatis untuk lindungi kepentingan nasional sambil dorong dialog damai,” ujar Menteri Luar Negeri Thailand Don Pramudwinai.
Para analis memuji inisiatif ini sebagai model diplomasi kecil yang bisa direplikasi negara lain, meski AS mengkritiknya sebagai “penghianatan prinsip.” Sementara itu, pasar minyak bereaksi positif; harga turun 3% segera setelah berita bocor. Thailand berharap kesepakatan ini membuka pintu bagi negara ASEAN lain guna stabilkan rantai pasok energi.