
Islamabad – Otoritas Pakistan mengumumkan pembebasan biaya transportasi umum di ibu kota Islamabad dan provinsi terpadat Punjab selama sebulan ke depan. Langkah ini diambil sebagai respons atas gejolak sosial akibat kenaikan drastis harga bahan bakar minyak (BBM), yang dipicu oleh perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Pengumuman tersebut menyusul aksi protes jalanan massal serta antrean panjang sepeda motor di SPBU di seluruh negeri. Kenaikan harga bensin sebesar 42,7 persen—dari sebelumnya menjadi 485 rupee Pakistan (sekitar US$1,74) per liter—memprovokasi kemarahan publik yang bergantung pada transportasi murah.
Pada Jumat malam waktu setempat, Perdana Menteri (PM) Shehbaz Sharif membatalkan keputusan awal tersebut. Ia menyatakan akan memangkas kenaikan harga dan menetapkan ulang harga bensin di level 378 rupee per liter. “Kami mendengar suara rakyat dan menyesuaikan kebijakan untuk meringankan beban,” ujar Sharif dalam pernyataan resminya.
Kebijakan gratisan transportasi umum ini diharapkan meredam ketegangan sosial sambil memberi waktu pemerintah menstabilkan harga energi. Analis memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah berpotensi terus mengganggu pasokan minyak global, sehingga Pakistan—sebagai importir BBM besar—rentan terhadap fluktuasi harga.
Warga Islamabad menyambut baik inisiatif ini. “Akhirnya ada keringanan, tapi semoga harga BBM stabil jangka panjang,” kata seorang pengemudi ojek di pusat kota.





