
Moskow – Pemerintah Rusia menyatakan kesiapannya menghadapi “realitas dunia baru” tanpa batasan pengendalian senjata nuklir, menyusul berakhirnya Perjanjian New START dengan Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan ini.
Perjanjian New START, yang ditandatangani pada 2010 oleh Presiden Rusia Dmitry Medvedev dan Presiden AS Barack Obama, membatasi jumlah hulu ledak nuklir strategis serta sarana pengiriman seperti rudal balistik antarbenua (ICBM) dan bom berat. Dokumen ini seharusnya berakhir pada 5 Februari 2026, kecuali kedua negara mencapai kesepakatan bilateral di menit-menit akhir.
Seperti dilansir Reuters pada Selasa (3/2/2026), Moskow telah mengusulkan perpanjangan pembatasan tersebut kepada Washington di bawah Presiden Donald Trump. Namun, hingga kini belum ada respons resmi dari AS.
Kepala Diplomasi Rusia Sergei Lavrov sebelumnya menyatakan bahwa Moskow terbuka untuk dialog, tetapi menolak ketentuan yang dianggap merugikan kepentingan nasional. “Kami siap menghadapi dunia multipolar tanpa paksaan dari Barat,” ujar seorang pejabat Kremlin, seperti dikutip media Rusia.
Berakhirnya New START menandai akhir era pengendalian senjata nuklir bilateral pasca-Perang Dingin. Para analis memperingatkan risiko eskalasi perlombaan senjata, terutama di tengah ketegangan geopolitik global seperti konflik Ukraina dan persaingan AS-Cina.
Pihak AS belum mengomentari usulan Rusia, meski Gedung Putih sebelumnya menekankan pentingnya pengendalian senjata untuk stabilitas dunia.





