
Studi terbaru dari NASA mengguncang fondasi teori lama tentang asal-usul air di Bumi. Para ilmuwan menganalisis sampel batuan Bulan yang berusia lebih dari 50 tahun, dikumpulkan selama misi Apollo, dan menemukan bukti kuat bahwa air di planet kita kemungkinan besar bukan dibawa oleh hantaman meteor seperti yang selama ini diyakini banyak kalangan.
Selama puluhan tahun, hipotesis utama menyatakan bahwa air Bumi berasal dari meteorit kaya air yang menabrak Bumi muda miliaran tahun lalu. Teori ini populer karena Bumi pada masa itu kemungkinan kering dan panas, sehingga air harus “diimpor” dari luar angkasa. Namun, tantangannya adalah permukaan Bumi terus berubah akibat aktivitas geologi seperti tektonik lempeng dan erosi cuaca, yang menghapus jejak tabrakan kuno tersebut.
Situasi di Bulan jauh berbeda. Tanpa atmosfer dan gerakan lempeng tektonik, permukaannya menjadi “arsip alami” yang sempurna untuk menyimpan catatan sejarah benturan di Tata Surya. Sampel Apollo, yang diamankan sejak 1969-1972, kini dianalisis ulang dengan teknologi canggih seperti spektroskopi isotop. Hasilnya mengejutkan: komposisi isotop hidrogen di batuan Bulan mirip dengan air di Bumi, menunjukkan kemungkinan asal yang sama—bukan dari meteorit biasa.
“Penemuan ini membuka pintu bagi teori alternatif, seperti air yang terbentuk secara endogen dari mantel Bumi atau dibawa oleh komet tertentu,” kata peneliti utama dari NASA Goddard Space Flight Center, seperti dikutip dalam jurnal Science Advances. Studi ini juga mendukung gagasan bahwa Bulan terbentuk dari material yang sama dengan Bumi setelah tabrakan raksasa, membawa petunjuk asal air bersama-sama.
Implikasi penelitian ini luas, mulai dari pemahaman baru tentang evolusi planet hingga pencarian kehidupan di luar Bumi. NASA berencana mengonfirmasi temuan ini dengan misi Artemis mendatang, yang akan mengumpulkan sampel Bulan lebih segar.





